Apa yang Harus Disiapkan Sebelum Membuat Website Bisnis?
Membuat website bisnis sering kali dimulai dari hal yang paling terlihat: memilih desain, mencari referensi website, menentukan warna, atau bahkan langsung meminta developer mulai coding.
Padahal, sebelum masuk ke tahap desain dan development, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu.
Website yang baik bukan hanya website yang terlihat menarik. Website harus mampu menjelaskan bisnis dengan jelas, membantu pengunjung menemukan informasi yang mereka butuhkan, membangun kepercayaan, dan mengarahkan mereka pada tindakan yang sesuai.
Karena itu, proses membuat website bisnis sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan:
“Mau desain websitenya seperti apa?”
Tetapi dari pertanyaan:
“Website ini sebenarnya dibuat untuk apa, dan siapa yang akan menggunakannya?”
Persiapan yang matang akan membuat proses desain dan development menjadi lebih terarah. Selain itu, bisnis juga dapat menghindari berbagai revisi yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.
Lalu, apa saja yang perlu disiapkan sebelum membuat website bisnis?
1. Tentukan Tujuan Website
Hal pertama yang perlu ditentukan adalah tujuan website.
Jangan membuat website hanya karena kompetitor sudah memiliki website atau karena bisnis ingin terlihat lebih profesional.
Website harus memiliki fungsi yang jelas.
Misalnya, website dibuat untuk:
- memperkenalkan perusahaan,
- menampilkan produk atau layanan,
- mendapatkan calon pelanggan,
- menerima permintaan penawaran,
- menjual produk secara online,
- menerima reservasi,
- menyediakan informasi,
- membangun kredibilitas,
- atau menjadi pusat informasi bisnis.
Satu bisnis dapat memiliki beberapa tujuan sekaligus.
Namun, sebaiknya tetap menentukan tujuan utama.
Misalnya:
“Website ini bertujuan membantu calon pelanggan memahami layanan perusahaan dan menghubungi tim untuk mendapatkan konsultasi.”
Tujuan seperti ini akan memengaruhi struktur halaman, isi konten, desain CTA, hingga cara mengukur keberhasilan website.
Tanpa tujuan yang jelas, website mudah berubah menjadi kumpulan halaman yang terlihat bagus tetapi tidak memiliki arah.
2. Kenali Target Audience
Website dibuat untuk pengguna, bukan hanya untuk pemilik bisnis.
Karena itu, sebelum menentukan desain, pahami terlebih dahulu siapa yang akan mengunjungi website.
Pertimbangkan:
- siapa mereka,
- apa kebutuhan mereka,
- masalah apa yang mereka hadapi,
- informasi apa yang mereka cari,
- bagaimana mereka mengambil keputusan,
- dan tindakan apa yang ingin mereka lakukan setelah mengunjungi website.
Misalnya, website untuk perusahaan B2B tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan website untuk coffee shop.
Begitu juga website jasa profesional akan berbeda dengan website e-commerce.
Target audience akan memengaruhi:
- bahasa yang digunakan,
- struktur informasi,
- visual,
- navigasi,
- CTA,
- hingga tingkat detail konten.
Semakin jelas target audience, semakin mudah membuat website yang relevan.
3. Tentukan Produk atau Layanan yang Akan Ditampilkan
Sebelum membuat website, siapkan daftar produk atau layanan yang ingin ditampilkan.
Jangan hanya menyiapkan nama produknya.
Informasi pendukung juga perlu dipersiapkan.
Untuk produk, misalnya:
- nama,
- foto,
- deskripsi,
- spesifikasi,
- ukuran atau varian,
- harga jika diperlukan,
- keunggulan,
- dan informasi pemesanan.
Untuk layanan, dapat mencakup:
- nama layanan,
- penjelasan,
- masalah yang diselesaikan,
- proses kerja,
- hasil atau manfaat,
- cakupan layanan,
- dan cara menghubungi bisnis.
Informasi tersebut nantinya menjadi bahan utama dalam menyusun halaman website.
Semakin lengkap informasi yang tersedia, semakin kecil kemungkinan proses development terhambat karena konten belum siap.
4. Siapkan Informasi Tentang Bisnis
Halaman seperti About Us atau Tentang Kami sering dianggap sebagai halaman tambahan.
Padahal, bagi calon pelanggan, halaman tersebut dapat menjadi salah satu sumber untuk memahami siapa yang berada di balik sebuah bisnis.
Beberapa informasi yang dapat disiapkan antara lain:
- nama perusahaan,
- tahun berdiri,
- latar belakang bisnis,
- visi dan misi,
- nilai perusahaan,
- bidang usaha,
- lokasi,
- pengalaman,
- tim,
- dan informasi relevan lainnya.
Tidak semua informasi harus dimasukkan.
Pilih informasi yang membantu audiens memahami bisnis dan meningkatkan kredibilitas.
Hindari membuat halaman About Us hanya berisi sejarah perusahaan yang panjang tetapi tidak relevan bagi calon pelanggan.
5. Siapkan Brand Identity
Jika bisnis sudah memiliki identitas visual, siapkan seluruh asetnya sebelum masuk ke tahap desain website.
Contohnya:
- logo,
- logo alternatif,
- warna brand,
- typography,
- icon,
- ilustrasi,
- foto,
- pattern,
- dan brand guidelines jika tersedia.
Logo sebaiknya tersedia dalam format yang sesuai, seperti SVG atau PNG berkualitas tinggi.
Jika perusahaan sudah memiliki brand guideline, dokumen tersebut juga sebaiknya diberikan kepada designer atau agency.
Dengan begitu, website dapat dibuat sebagai bagian dari identitas brand yang sudah ada, bukan menjadi desain yang berdiri sendiri.
6. Siapkan Foto dan Materi Visual
Visual memiliki peran besar dalam website.
Foto produk, foto kantor, foto tim, dokumentasi pekerjaan, maupun visual pendukung dapat membantu website terasa lebih autentik.
Sebelum website dibuat, kumpulkan seluruh aset visual yang tersedia.
Misalnya:
- foto produk,
- foto tim,
- foto kantor,
- dokumentasi proyek,
- foto kegiatan,
- video,
- ilustrasi,
- logo partner,
- sertifikat,
- dan materi pendukung lainnya.
Tidak semua foto harus digunakan.
Namun, memiliki library aset sejak awal akan memudahkan proses desain.
Jika belum memiliki foto yang memadai, tentukan apakah bisnis akan melakukan photoshoot, menggunakan ilustrasi, atau menggunakan stock image yang sesuai.
7. Tentukan Struktur Halaman
Sebelum mendesain website, tentukan halaman apa saja yang benar-benar dibutuhkan.
Struktur sederhana untuk website bisnis dapat berupa:
- Home
- Tentang Kami
- Produk atau Layanan
- Portofolio
- Artikel
- FAQ
- Kontak
Namun, struktur tersebut bukan aturan mutlak.
Website perusahaan yang lebih kompleks mungkin membutuhkan:
- halaman produk,
- detail produk,
- case study,
- halaman industri,
- resource center,
- careers,
- knowledge base,
- atau halaman khusus lainnya.
Yang penting adalah struktur tersebut mengikuti kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis.
Jangan menambahkan halaman hanya karena website kompetitor memilikinya.
8. Buat Sitemap
Setelah daftar halaman ditentukan, susun sitemap.
Sitemap membantu menggambarkan hubungan antarhalaman.
Contohnya:
Home
→ Tentang Kami
→ Layanan
→ Detail Layanan
→ Portofolio
→ Detail Portofolio
→ Artikel
→ Detail Artikel
→ Kontak
Struktur ini akan membantu designer dan developer memahami bagaimana pengguna berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya.
Sitemap juga membantu menghindari struktur website yang terlalu dalam atau membingungkan.
9. Siapkan Konten Website
Ini salah satu bagian yang paling sering terlupakan.
Desain website sudah selesai, tetapi kontennya belum tersedia.
Akibatnya, proses website menjadi tertunda.
Sebelum development dimulai, sebaiknya bisnis mulai menyiapkan:
- headline,
- subheadline,
- deskripsi bisnis,
- deskripsi layanan,
- deskripsi produk,
- CTA,
- FAQ,
- informasi kontak,
- profil perusahaan,
- dan konten halaman lainnya.
Konten tidak harus langsung sempurna.
Namun, setidaknya designer dan developer memiliki materi nyata yang dapat digunakan sebagai dasar desain.
Menggunakan teks dummy terlalu lama dapat menyebabkan desain berubah ketika konten asli dimasukkan.
10. Tentukan CTA
CTA atau Call to Action adalah elemen yang mengarahkan pengguna melakukan tindakan tertentu.
Contohnya:
- Hubungi Kami
- Konsultasi Sekarang
- Minta Penawaran
- Lihat Produk
- Pesan Sekarang
- Download Company Profile
- Jadwalkan Meeting
CTA sebaiknya disesuaikan dengan tujuan website.
Jika tujuan website adalah mendapatkan leads, CTA seperti “Hubungi Kami” atau “Konsultasi” mungkin lebih relevan.
Jika website menjual produk secara langsung, CTA dapat mengarah ke pembelian atau checkout.
Yang penting, pengguna tidak dibuat menebak apa yang harus dilakukan setelah membaca sebuah halaman.
11. Tentukan Informasi Kontak
Pastikan informasi kontak bisnis sudah tersedia dan valid.
Misalnya:
- nomor WhatsApp,
- email,
- alamat,
- Google Maps,
- jam operasional,
- Instagram,
- LinkedIn,
- dan media sosial lainnya.
Jika bisnis memiliki beberapa cabang, tentukan juga bagaimana informasi tersebut akan ditampilkan.
Informasi kontak yang tidak lengkap dapat membuat calon pelanggan ragu untuk menghubungi bisnis.
12. Siapkan Social Proof
Calon pelanggan tidak hanya ingin mengetahui apa yang bisnis katakan tentang dirinya sendiri.
Mereka juga ingin mengetahui pengalaman orang lain.
Karena itu, jika tersedia, siapkan:
- testimonial,
- review,
- logo klien,
- daftar partner,
- case study,
- jumlah proyek,
- sertifikasi,
- penghargaan,
- atau bukti kredibilitas lainnya.
Social proof tidak harus dibuat berlebihan.
Beberapa testimonial yang relevan dan spesifik sering kali lebih informatif daripada banyak kutipan yang terlalu umum.
Contohnya, testimonial yang menjelaskan masalah, proses, dan hasil akan lebih membantu calon pelanggan memahami nilai sebuah layanan.
13. Siapkan Domain
Domain adalah alamat yang digunakan untuk mengakses website.
Contohnya:
namabisnis.com
Sebelum membeli domain, tentukan nama yang:
- mudah diingat,
- mudah diketik,
- relevan dengan brand,
- tidak terlalu panjang,
- dan mudah disebutkan secara lisan.
Jika bisnis sudah memiliki domain, pastikan informasi akses dan pengelolaannya diketahui.
Jangan sampai domain terdaftar atas akun seseorang yang kemudian sulit diakses ketika terjadi pergantian tim.
14. Tentukan Hosting
Selain domain, website membutuhkan hosting atau infrastruktur tempat website dijalankan.
Kebutuhan hosting bergantung pada jenis website.
Website company profile sederhana tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan:
- e-commerce,
- website dengan database besar,
- membership platform,
- sistem booking,
- atau aplikasi web.
Jangan hanya memilih hosting berdasarkan harga.
Pertimbangkan juga:
- performa,
- kapasitas,
- keamanan,
- backup,
- SSL,
- dukungan teknis,
- scalability,
- dan kebutuhan teknologi website.
Untuk website bisnis, reliability sebaiknya menjadi pertimbangan utama.
15. Tentukan Fitur yang Dibutuhkan
Buat daftar fitur sebelum proses development.
Misalnya:
- contact form,
- WhatsApp integration,
- search,
- newsletter,
- blog,
- katalog produk,
- booking,
- payment gateway,
- login,
- dashboard admin,
- CMS,
- analytics,
- atau integrasi dengan sistem lain.
Pisahkan fitur menjadi dua kategori:
Must-have
Fitur yang benar-benar dibutuhkan saat website diluncurkan.
Nice-to-have
Fitur tambahan yang dapat dikembangkan setelah website berjalan.
Cara ini membantu mengontrol scope proyek.
Tidak semua fitur harus dibuat pada versi pertama.
16. Tentukan Platform atau Teknologi
Teknologi sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan website, bukan hanya karena teknologi tersebut sedang populer.
Untuk website bisnis sederhana, platform seperti WordPress dapat menjadi pilihan.
Untuk kebutuhan yang lebih kompleks, bisnis mungkin membutuhkan framework atau sistem custom.
Beberapa pertimbangan antara lain:
- kompleksitas fitur,
- kebutuhan admin,
- scalability,
- budget,
- maintenance,
- keamanan,
- dan kemampuan tim yang akan mengelola website.
Teknologi adalah alat.
Yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu memenuhi kebutuhan bisnis.
17. Tentukan Kebutuhan SEO Sejak Awal
SEO sebaiknya tidak baru dipikirkan setelah website selesai.
Struktur website, heading, URL, internal linking, page speed, dan konten dapat memengaruhi kemampuan website untuk ditemukan melalui mesin pencari.
Sebelum website dibuat, tentukan:
- topik utama bisnis,
- keyword yang relevan,
- halaman yang ingin ditemukan di Google,
- struktur URL,
- dan jenis konten yang akan dikembangkan.
Misalnya sebuah bisnis memiliki layanan:
Web Development
Maka halaman layanan tersebut sebaiknya memiliki struktur dan konten yang memang menjelaskan layanan tersebut secara jelas.
SEO bukan sekadar memasukkan keyword sebanyak mungkin.
Fondasinya justru dimulai dari struktur dan konten yang relevan.
18. Siapkan Google Analytics dan Search Console
Jika website akan digunakan sebagai bagian dari strategi digital, data menjadi penting.
Tools analytics dapat membantu mengetahui:
- jumlah pengunjung,
- halaman yang paling sering dibuka,
- sumber traffic,
- perangkat yang digunakan,
- dan perilaku pengguna.
Search Console dapat membantu memantau performa website di Google.
Dengan data tersebut, bisnis tidak hanya mengandalkan asumsi.
Setelah website berjalan, keputusan pengembangan dapat didasarkan pada perilaku pengguna yang sebenarnya.
19. Tentukan Siapa yang Mengelola Website
Website membutuhkan pengelolaan setelah diluncurkan.
Tentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap:
- update konten,
- artikel,
- produk,
- keamanan,
- backup,
- form,
- domain,
- hosting,
- dan kebutuhan teknis lainnya.
Jika semua akses hanya dimiliki satu orang, bisnis dapat mengalami masalah ketika orang tersebut tidak lagi menangani website.
Karena itu, pengelolaan akses juga perlu dipikirkan sejak awal.
20. Siapkan Budget
Budget bukan hanya untuk membayar pembuatan website.
Perhitungkan juga biaya lainnya.
Misalnya:
- domain,
- hosting,
- desain,
- development,
- copywriting,
- fotografi,
- plugin atau tools,
- maintenance,
- SEO,
- dan pengembangan lanjutan.
Besarnya budget sangat bergantung pada kebutuhan.
Website company profile sederhana tentu berbeda dengan website e-commerce atau aplikasi web custom.
Yang penting adalah menentukan prioritas.
Jangan menghabiskan seluruh budget untuk tampilan tetapi tidak memiliki anggaran untuk maintenance dan pengembangan setelah website diluncurkan.
21. Tentukan Timeline
Website yang baik membutuhkan proses.
Timeline dapat dibagi menjadi beberapa tahap:
Discovery
Memahami bisnis, audience, tujuan, dan kebutuhan.
Planning
Menyusun sitemap, user flow, konten, dan requirement.
UI/UX Design
Membuat wireframe, visual design, dan prototype.
Development
Mengembangkan desain menjadi website yang dapat digunakan.
Testing
Memeriksa responsive layout, functionality, performance, form, link, dan berbagai kondisi lainnya.
Launch
Memindahkan website ke production dan memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Maintenance
Melakukan update, monitoring, dan improvement.
Timeline yang jelas membantu bisnis memahami kapan setiap tahap harus selesai.
22. Siapkan Akses yang Dibutuhkan
Jika website dikerjakan oleh agency atau developer, biasanya terdapat beberapa akses yang perlu disiapkan.
Misalnya:
- domain,
- hosting,
- CMS,
- Google Analytics,
- Google Search Console,
- email bisnis,
- social media,
- dan tools pihak ketiga lainnya.
Namun, akses sebaiknya diberikan dengan sistem permission yang tepat.
Tidak semua orang membutuhkan akses administrator penuh.
Pengelolaan akses yang baik juga merupakan bagian dari keamanan website.
Apa yang Terjadi Jika Persiapan Tidak Dilakukan?
Kurangnya persiapan dapat menimbulkan berbagai masalah.
Misalnya:
Desain terus berubah
Karena konten dan struktur belum jelas, desain sering mengalami revisi besar.
Development tertunda
Developer menunggu materi atau keputusan yang belum tersedia.
Scope proyek melebar
Fitur baru terus ditambahkan di tengah proses.
Budget membengkak
Perubahan besar setelah development dimulai dapat membutuhkan waktu dan biaya tambahan.
Website tidak fokus
Banyak halaman dan fitur dibuat tetapi tidak memiliki tujuan yang jelas.
Website sulit dikelola
Setelah launch, tidak ada orang yang bertanggung jawab terhadap konten dan maintenance.
Dengan kata lain, persiapan bukan hanya tahap administratif.
Persiapan membantu menjaga kualitas, waktu, dan biaya proyek.
Checklist Sebelum Membuat Website Bisnis
Sebelum proyek dimulai, gunakan checklist sederhana berikut.
Strategi
- Tujuan website sudah jelas
- Target audience sudah ditentukan
- Positioning bisnis sudah dipahami
- Tujuan utama setiap halaman sudah ditentukan
Konten
- Profil perusahaan tersedia
- Produk atau layanan sudah didata
- Foto dan aset visual tersedia
- Copywriting sudah disiapkan
- CTA sudah ditentukan
- FAQ tersedia jika diperlukan
- Testimonial atau social proof tersedia
Struktur
- Sitemap sudah dibuat
- Navigasi sudah direncanakan
- User flow sudah dipahami
- Struktur halaman sudah ditentukan
Brand
- Logo tersedia
- Warna brand tersedia
- Typography ditentukan
- Brand guideline tersedia jika ada
Teknis
- Domain tersedia
- Hosting ditentukan
- Platform/teknologi ditentukan
- Fitur utama sudah didata
- Integrasi pihak ketiga sudah diidentifikasi
- Kebutuhan keamanan dipertimbangkan
Digital Marketing
- Keyword utama sudah dipetakan
- Struktur SEO sudah direncanakan
- Google Analytics disiapkan
- Google Search Console disiapkan
Operasional
- Budget sudah ditentukan
- Timeline sudah dibuat
- PIC website sudah ditentukan
- Sistem maintenance sudah direncanakan
- Hak akses sudah diatur
Apakah Semua Harus Siap Sebelum Membuat Website?
Tidak harus semuanya sempurna.
Yang penting adalah hal-hal fundamental sudah jelas.
Misalnya, Anda belum memiliki semua artikel blog. Itu tidak selalu menjadi alasan untuk menunda pembuatan website.
Namun, jika tujuan website, target audience, struktur halaman, produk, dan layanan belum jelas, sebaiknya jangan terburu-buru masuk ke tahap development.
Ada perbedaan antara belum sempurna dan belum siap.
Website dapat terus dikembangkan setelah launch.
Yang penting adalah versi pertama memiliki fondasi yang cukup untuk digunakan dan dikembangkan.
Website Bukan Proyek Sekali Jadi
Salah satu cara berpikir yang perlu diubah adalah menganggap website sebagai proyek yang selesai ketika tombol “publish” ditekan.
Website seharusnya dipandang sebagai bagian dari ekosistem digital bisnis.
Setelah launch, bisnis dapat:
- menambahkan konten,
- memperbaiki halaman,
- memantau analytics,
- melakukan SEO,
- mengoptimalkan conversion,
- memperbaiki UX,
- meningkatkan performance,
- dan menambahkan fitur berdasarkan kebutuhan.
Dengan pendekatan tersebut, website dapat berkembang mengikuti bisnis.
Kesimpulan
Membuat website bisnis bukan hanya tentang memilih desain yang menarik atau menentukan teknologi yang akan digunakan.
Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum proses desain dan development dimulai.
Mulai dari tujuan website, target audience, produk dan layanan, konten, brand identity, sitemap, fitur, domain, hosting, SEO, analytics, budget, hingga siapa yang akan mengelolanya setelah website diluncurkan.
Semakin jelas persiapannya, semakin terarah proses pembuatan website.
Namun, persiapan tidak berarti semua hal harus sempurna sejak hari pertama.
Yang paling penting adalah memiliki fondasi yang jelas, menentukan prioritas, dan memahami bahwa website dapat terus berkembang seiring pertumbuhan bisnis.
Pada akhirnya, website yang baik bukan hanya hasil dari desain yang bagus.
Website yang baik dimulai dari perencanaan yang tepat.
FAQ
Berapa lama persiapan sebelum membuat website bisnis?
Tidak ada waktu yang sama untuk semua bisnis. Website sederhana dapat dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, sedangkan website dengan banyak produk, layanan, atau integrasi membutuhkan persiapan lebih panjang.
Apakah saya harus memiliki logo sebelum membuat website?
Idealnya, identitas brand sudah tersedia agar desain website dapat mengikuti karakter bisnis. Namun, jika logo belum tersedia, proses branding dapat dilakukan sebelum atau bersamaan dengan proyek website.
Apakah konten harus selesai sebelum website dibuat?
Tidak harus seluruhnya selesai. Namun, konten utama sebaiknya sudah tersedia agar struktur dan desain website dapat dibuat berdasarkan informasi yang nyata.
Apakah bisnis kecil membutuhkan website yang kompleks?
Tidak selalu. Website sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Website sederhana dengan struktur dan informasi yang jelas dapat lebih berguna daripada website kompleks yang memiliki banyak fitur tetapi jarang digunakan.
Apakah SEO perlu dipikirkan sebelum website selesai?
Ya. SEO sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan sejak awal karena struktur website, URL, konten, heading, dan internal linking dapat memengaruhi performa pencarian.
Apa yang paling penting disiapkan sebelum membuat website?
Mulailah dari tujuan website, target audience, struktur informasi, produk atau layanan, dan konten utama. Setelah fondasi tersebut jelas, keputusan mengenai desain dan teknologi akan menjadi lebih mudah.
Siapkan Fondasi Digital Bisnis Anda
Di Slation Creative, kami melihat pembuatan website bukan hanya sebagai proses membuat halaman web.
Website perlu dibangun berdasarkan tujuan bisnis, kebutuhan pengguna, identitas brand, dan pengalaman yang ingin diberikan.
Mulai dari UI/UX Design, Web Development, Branding, hingga Digital Creative, setiap bagian perlu bekerja sebagai satu sistem yang saling mendukung.
Karena website yang baik tidak dimulai dari kode.
Website yang baik dimulai dari pemahaman yang tepat tentang bisnis dan penggunanya.
Slation Creative — Let’s build something that matters.